BerandaPerspektif

Buku, Masihkah Diperlukan?

91
×

Buku, Masihkah Diperlukan?

Sebarkan artikel ini
Herman Oesman.

Oleh: Herman Oesman
Dosen Sosiologi FISIP UMMU

“…buku merupakan ruang hening untuk berpikir…”

Di tengah gempuran layar, notifikasi, dan arus informasi yang mengalir tanpa henti, pertanyaan tentang buku terasa wajar sekaligus gelisah : “masihkah buku diperlukan?”

Ketika jawaban atas hampir semua hal bisa dicari dalam hitungan detik melalui mesin pencari, buku kerap dianggap lamban, berat, dan kurang praktis. Namun justru dalam kelambanan itulah buku menyimpan kekuatannya.

Buku tidak sekadar kumpulan informasi. Ia merupakan ruang kontemplasi. Membaca buku memaksa pembacanya untuk berhenti sejenak, menunda kesimpulan, dan mengikuti alur gagasan secara utuh. Berbeda dengan potongan informasi di media digital yang fragmentaris, buku menawarkan kedalaman dan kesinambungan.

Nicholas Carr (2010) menyebutkan, budaya digital cenderung membentuk pola baca yang dangkal. Skimming, scanning, dan meloncat-loncat, yang perlahan mengikis kemampuan berpikir mendalam.

Dalam tradisi intelektual, buku merupakan medium utama pewarisan pengetahuan lintas generasi. Dari manuskrip kuno hingga buku cetak modern, peradaban manusia dibangun melalui teks yang dibaca secara serius. Walter J. Ong (1982) menjelaskan, bahwa budaya tulis memungkinkan manusia mengembangkan cara berpikir analitis dan reflektif yang tidak mungkin lahir hanya dari tradisi lisan. Buku, dalam konteks ini, bukan sekadar alat baca, melainkan fondasi cara berpikir.

Di era digital, persoalannya bukan buku kalah oleh teknologi, melainkan berubahnya relasi manusia dengan pengetahuan. Informasi kini berlimpah, tetapi pemahaman justru langka. Buku hadir sebagai penyeimbang. Ia menuntut komitmen waktu dan perhatian. Membaca buku berarti bersedia masuk ke dalam dunia orang lain, mengikuti argumen yang panjang, bahkan menghadapi ketidaknyamanan intelektual.

Di sinilah buku berfungsi sebagai latihan kesabaran dan kedewasaan berpikir.
Buku juga memiliki dimensi etis. Bahwa membaca bukan hanya soal mengenali kata, tetapi membaca dunia. Buku memberi ruang bagi pembaca untuk memahami struktur sosial, ketidakadilan, dan relasi kuasa.

Melalui buku, kesadaran kritis dibentuk secara perlahan namun mendalam. Media digital acapkali mendorong reaksi cepat, sementara buku mengajak refleksi.

Pada sisi lain, buku kerap dianggap eksklusif, hanya milik kalangan terdidik. Kritik ini tidak sepenuhnya keliru. Namun solusinya bukan meninggalkan buku, melainkan memperluas akses dan budaya membaca. Literasi, demikian penegasan UNESCO (2016), merupakan hak dasar manusia dan buku tetap menjadi instrumen utama dalam membangun literasi berkelanjutan. Tanpa buku, literasi berisiko direduksi menjadi sekadar kemampuan teknis membaca teks pendek.

Dalam konteks pendidikan, buku memainkan peran yang tidak tergantikan. Buku teks, buku referensi, maupun buku bacaan memperkenalkan peserta didik dan mahasiswa pada logika berpikir sistematis. Penelitian Maryanne Wolf yang terangkum dalam Reader : Come Home : The Reading Brain in a Digital World (2018) menunjukkan, membaca teks panjang seperti buku membantu perkembangan *“deep reading”, yakni kemampuan memahami makna, empati, dan berpikir kritis.

Ketika pendidikan terlalu bergantung pada materi instan, risiko yang muncul adalah generasi yang cepat tahu, tetapi sulit memahami secara mendalam.

Buku juga memiliki nilai simbolik dan emosional. Bagi banyak orang, buku merupakan teman sunyi, saksi perjalanan hidup, bahkan penanda fase-fase intelektual. Jejak lipatan halaman, catatan di pinggir teks, dan aroma kertas menghadirkan pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh layar. Medium baca memengaruhi cara kita berinteraksi dengan teks dan makna yang kita bangun darinya (Chartier, 1995).

Apakah buku harus selalu berbentuk cetak? Tidak. Buku digital, selama mempertahankan kedalaman dan struktur berpikir, tetaplah buku. Yang dipertaruhkan bukan formatnya, melainkan cara membaca.

Buku, baik cetak maupun digital, menuntut pembacaan yang utuh, perlahan, dan reflektif. Selama prinsip ini dijaga, buku tetap relevan.
Maka, menjawab pertanyaan “Buku, masihkah diperlukan?”, jawabannya bukan sekadar ya, tetapi semakin diperlukan.

Di dunia yang bising dan serba cepat, buku merupakan ruang hening untuk berpikir. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan bukan hanya soal kecepatan, melainkan kedalaman; bukan hanya soal tahu, tetapi memahami. Buku mengingatkan kita bahwa menjadi manusia berarti terus belajar dengan sabar, kritis, dan penuh kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *