BerandaPerspektif

Analisis Lanskap Struktur Ekonomi Maluku Utara

1577
×

Analisis Lanskap Struktur Ekonomi Maluku Utara

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ibrahim Yakub, S.E, M.E

Catatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Struktur ekonomi menjadi cerminan kontribusi berbagai sektor dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Analisis struktur ekonomi menjadi catatan penting untuk memahami arah pembangunan nasional maupun daerah.

Setiap daerah berkompetisi meningkatkan sektor primer (pertanian, perikanan, pertambangan), sektor sekunder (industri) dan sektor tersier (jasa). Masing-masing sektor memiliki presentasi secara matematis yang berbeda-beda, ini tergambar dari laporan badan pusat statistik (BPS) melalui distribusi dan pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha baik triwulan I, II dan III. Misalnya pada 2024 triwulan I, tercatat pertumbuhan pertanian merosot jauh di angka -3,54% dibandingkan dengan pertambangan 9,31% dan jasa perusahaan 9,63%. Artinya, sektor pertanian kita sangat lesuh dan menunjukkan ada sisi kebijakan pemerintah yang tidak terlalu merespon bagus terhadap tenaga kerja petani.

Namun, pemerintah Indonesia pada awal 2025 sedikit gembar-gembor, struktur ekonomi nasional mulai menunjukan pertumbuhan positif. Terutama didorong oleh sektor pertanian yang mencatat pertumbuhan tertinggi diawal tahun, dimana pada kuartal 1/2025 tumbuh sebesar 10,52%. Indikator kausalitas (growth) menurut kacamata negara dipengaruhi panen raya terutama padi dan jagung serta pemangkasan regulasi yang dilakukan dengan penyederhanaan regulasi penyaluran pupuk menjadi satu (Perpres) untuk mempermudah akses petani.

Economy Growth disektor pertanian yang tinggi merefleksikan bahwa, ada arus balik dalam struktur ekonomi masyarakat yang saat ini berbondong-bondong tepuk tangan atas kehadiran industrialisasi dan mengusap dada karena pencemaran lingkungan. Namun kini seakan kembali menjadi masyarakat agraris.

Lanskap ekonomi nasional cenderung bergerak diantara agraris ke industri, industri ke agraris serta keduanya selalu bergelindan dalam memberikan pengaruh pertumbuhan ekonomi. Inilah yang disebut dengan transformasi struktural oleh Chenery (dalam Amir, 2007), bahwa transformasi struktural sendiri merupakan suatu proses transisi dari sistem ekonomi tradisional ke sistem ekonomi modern dimana masing-masing sektor perekonomian akan mengalami transformasi yang berbeda-beda. Secara fakta, fenomena perubahan struktur ekonomi itu juga terjadi di daerah kepulauan Provinsi Maluku Utara.

Membaca Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara

Dalam perkembangan struktur ekonomi Maluku Utara saat ini cenderung sangat dominan oleh sektor industri pengolahan 57,51%, industri pertambangan dan penggalian 60,57%, perdagangan 8%. Pada 5 agustus 2025, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara Triwulan II sedikit menurun diangka 32,9%, dibandingkan Triwulan I dengan angka 34, 41% (baca : BPS Malut). Kendati demikian, angka pada triwulan II masih terbilang melambung tinggi dari provinsi lainnya yang rata-rata pertumbuhan ekonominya diangka 5 sampai 8%.

Gambaran umumnya Maluku Utara secara domestik (economy growth) lebih besar di sektor pertambangan. Kontribusi industri tambang harusnya mampu memberikan peluang untuk usaha kecil menengah bisa tumbuh, sektor pendidikan dan kesehatan mendapatkan jaminan sarana-prasarana yang layak, serta industrialisasi pertanian sebagai penyangga aktifitas tenaga kerja di perusahaan pertambangan ikut tercipta juga berkembang.

Apa daya tangan tak sampai! Mungkin demikian yang bisa diucapkan sebagai masyarakat yang hanya punya tenaga dan doa disela-sela berlangsungnya hilirisasi nikel tetapi masih berada pada kubangan kemiskinan yang begitu besar. Jika membaca laporan BPS tentang kemiskinan di Maluku Utara, Maret 2025 jumlah penduduk miskin kita mencapai 77, 26 ribu orang atau dengan presentase sebesar 5,81%, terbilang masih relatif cukup tinggi yang mengindikasikan bahwa sebagian besar manfaat pertumbuhan ekonomi Maluku Utara belum terserap sepenuhnya ke kelompok masyarakat paling miskin.

Disisi lain, pertumbuhan ekonomi yang fantastis itu justru meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang mengikis mata pencaharian lokal di Maluku Utara, seperti masyarakat nelayan dan petani di daerah pesisir/pulau kecil terkena dampak sedimentasi, polusi logam berat, kerusakan terumbu karang dan mangrove yang meredam produktivitas perikanan dan ekosistem laut. Bahkan krisis pangan akibat tutupan lahan yang masif terjadi. Hal itu terjadi karena proses pertambangan dan pengolahan nikel dapat menghasilkan limbah berbahaya dan zat toksik yang bisa terbawa ke sungai atau tanah, memengaruhi ketersediaan air bersih dan kualitas pangan lokal di Maluku Utara.

Kesimpulannya, struktur ekonomi Maluku Utara yang bergerak dari sektor pertambangan telah menggeser secara dramatis dari aktifitas mata pencaharian masyarakat kita yang agraris dan maritim. Jika bisa memberikan terobosan pemikiran, maka sangat diharapkan pemerintah kita untuk kembali pada kejayaan green economy dan blue economy, dengan cara membuka lapangan pekerjaan melalui intervensi kebijakan untuk menciptakan industrialisasi perikanan dan pertanian menggunakan teknologi ramah lingkungan, yang mungkin sekarang disebut dengan hilirisasi pertanian dan perikanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *